12
Nov

Sunan Drajat

Umum

Perkembangan Islam di Indonesia mulai terlihat menjelang awal tahun 1400-an. Ajaran Islam dibawa oleh para pedagang dari Saudi, Gujarat, Turki dan India. Sumber : suhupendidikan.com

Karena alasan ini, agama Islam masuk ke Indonesia terutama di daerah pesisir. Untuk Jawa sendiri, Islam mulai ditransmisikan ke kota-kota pesisir seperti Tuban, Gresik, Demak, Lamongan dan Surabaya.

Dengan demikian Islam mulai diajarkan oleh para sarjana yang merupakan anggota Walisongo. Mereka mulai menyebarkan Islam dengan membangun perguruan tinggi yang menerima suaka dari seluruh nusantara.

Salah satu orang yang berpengaruh dan dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa, yaitu Sunan Drajat atau Sunan Derajat.

Dia dimasukkan sebagai wali yang namanya juga populer sebagai bagian dari anggota Walisongo.

Keberhasilannya dalam pengembangan agama Islam ditunjukkan oleh keberadaan bangunan bersejarah dan karya akulturasi yang membuat Islam diterima oleh orang Jawa.

Untuk perincian lebih lanjut tentang ulasan Anda, silakan merujuk ke ulasan berikut ini yang mengulas biografi Sunan Drajat dan Ajarannya.
Biografi Sunan Drajat

Nama populer lebih dikenal sebagai Sunan Drajat, tetapi nama aslinya adalah Raden Qosim atau Raden Syarifuddin putra seorang suci yang terkenal, Sunan Ampel.

Tidak ada kepastian tentang waktu kelahirannya, diperkirakan sekitar tahun 1470 Masehi Sunan Drajat juga terkait dengan anggota walisongo lainnya, yaitu Sunan Bonang.

Sunan Drajat

Lihatlah biografi Sunan Drajat berikut:

  • biografi
  • Nama asli Raden Qosim
  • Nama lain Raden Syarifuddin
  • Sunan Mayang Madu
  • Sunan Mahmud
  • Sunan Muryapada
  • Maulana Hasyim
  • Sheikh Masakeh
  • Raden Imam
  • Namanya adalah Ibu Nyai Ageng Manila
  • Nama Pastor Raden Rahmat (Sunan Ampel)
  • Lahir pada 1470 Masehi
  • Tahun kematian 1530 Masehi
  • Tempat desa Shiar Drajat, Lamongan
  • Makam Lamongane

Sejak kecil, Sunan Drajat memiliki kecerdasan luar biasa, sehingga ia mampu menguasai materi tentang Islam.

Julukannya adalah Sunan Drajat karena ia telah berhasil menyebarkan Islam di desa Drajat, di distrik Paciran, di Kabupaten Lamongan.

Judul lain yang diberikan oleh Raden Patah kepada Sunan Drajat adalah Sunan Mayang Madu karena keberhasilannya.

Jika dipilih dari silsilah keluarga, Sunan Drajat adalah anak kedua dari lima bersaudara.

Ia juga keponakan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan satu-satunya perintis yang pertama kali mengembangkan Islam di Jawa.

Jika silsilah ini dikembangkan lebih lanjut, Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah putra Syekh Jamaludin Akbar, atau dikenal dengan Jumadil Kubro.

Silsilah tersebut berasal dari keturunan sepuluh cucu nabi Muhammad, yaitu Sayyidina Husein.

Sunan Drajat memiliki semangat sosial yang tinggi di samping kegiatannya dalam menyebarkan Islam, ia juga sangat peduli dengan yang membutuhkan dan yang miskin.

Hal pertama yang dia rasakan sebelum menyebarkan Islam adalah memberantas kemiskinan agar orang dapat tumbuh dan berkembang.

Simak dan baca: Biografi Sunan Muria

Perjalanan Dakwah Sunan Drajat

Sunan Drajat menerima pendidikan asrama Ampel Denta di Surabaya bersama saudaranya Sunan Bonang, seorang kerabat Sunan Giri.

Pesantren di Ampel Denta, yang pada waktu itu berada di bawah bimbingan ayahnya Sunan Ampel.

Dia menerima perintah untuk menyebarkan Islam di wilayah barat Surabaya, khususnya di pantai Gresik. Tetapi selama perjalanannya melintasi laut, Sunan Drajat mengalami bencana yang tak terduga.

Perahunya dilanda badai raksasa yang menyebabkannya tenggelam. dan akhirnya dia terjebak di sebuah desa di pantai Lamongan.

Saat berada di desa, ia menerima sambutan hangat yang tak terduga dari sesepuh desa bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.

Sebelumnya diyakini bahwa mereka masuk Islam karena bantuan banyak pengkhotbah lainnya di Surabaya.

Akhirnya Sunan Drajat memutuskan untuk menetap di desa Jelak dengan menikahi Nyai Kemuning, putri Mbah Mayang Madu.

Ia mendirikan sebuah masjid kecil yang kemudian berubah menjadi perguruan tinggi sebagai tempat bermain warga.

Desa Jelak, yang awalnya terisolasi, mulai berkembang dengan cara yang lebih maju dan bahkan ramai, nama desa akhirnya diubah menjadi Banjaranyar.

Setelah mendengar bahwa dakwahnya di desa Jelak berhasil, Sunan Drajat memutuskan untuk berkeliaran untuk menemukan tujuan dakwah di tempat lain. Dia melakukan perjalanan 1 kilometer dari desa ke selatan.

Ada hutan di sana, jadi Sunan Drajat membuat bayi untuk pertama kalinya. Sebelumnya, ia meminta izin dari Sultan Demak 1 untuk mendapatkan tanah pada 1486 Masehi

Sunan Drajat dan para pengikutnya mulai membangun pemukiman di tanah baru-baru ini di